Tempat Wisata Tempat WisataCatatan pilihan untuk pembaca Indonesia.
travel

Menjelajah Pesona Alam Tersembunyi di Perbatasan Rupit

Rio Kurniawan berbagi pengalaman pribadi menjelajahi air terjun dan hutan lindung di sekitar Rupit, cocok untuk liburan singkat hemat.

20 May 2026 · 3 menit baca · oleh Rio Kurniawan
Menjelajah Pesona Alam Tersembunyi di Perbatasan Rupit

Pertama kali diajak warga lokal ke Air Terjun Tembalang, saya langsung jatuh hati. Aksesnya cuma jalan setapak selebar satu meter, nyusuri kebun kopi milik Pak Sulaiman. Butuh waktu sekitar 45 menit dari pusat Rupit, tapi pemandangan di ujung jalan benar-benar mengubah cara saya memandang wisata desa. Nggak perlu jauh-jauh ke luar negeri, ternyata keindahan begini ada di perbatasan.

Menyusuri Jejak Air Terjun Tersembunyi

Air Terjun Tembalang bukan nama yang muncul di Google Maps. Saya tahu dari obrolan malam di warung kopi dekat Pasar Rupit. “Kalau mau liar, ikut saya besok pagi,” kata Mas Heru, teman yang sejak kecil besar di sini. Kami berangkat subuh, hanya bermodal senter kepala dan bekal nasi bungkus.

Jalurnya naik turun, melewati aliran sungai kecil yang airnya jernih kehijauan. Sepanjang perjalanan saya melihat pohon aren dan durian hutan yang masih berbuah. Setelah satu jam, suara gemuruh air mulai terdengar. Tebing setinggi 15 meter tiba-tiba muncul di balik rimbun bambu. Kolam di bawahnya dangkal, cukup untuk berendam. Saya duduk di batu besar, menikmatii percikan air yang terasa seperti aurora kecil di pagi hari.

Tidak ada tiket masuk, tidak ada pedagang. Hanya kami berenam dan suara burung. Pengalaman ini membuktikan bahwa destinasi tersembunyi di sekitar Rupit masih perawan, layak dijaga bersama.

Air terjun dengan kolam alami di bawahnya, dikelilingi pepohonan hijau

Berburu Suvenir di Sentra UMKM Desa Bangun Jaya

Pulang dari air terjun, saya nyempetin mampir ke desa tetangga, Bangun Jaya. Di sana terdapat sentra UMKM yang mengolah hasil hutan menjadi kerajinan. Saya bertemu Ibu Rina yang membuat tas anyaman dari daun pandan. “Semua dari hutan sekitar,” katanya sambil terus menganyam. Harga tas itu hanya Rp35.000, tapi kualitasnya nggak kalah dengan produk kota.

Saya juga membeli kopi bubuk robusta yang ditanam di lereng bukit setempat. Proses produksinya masih tradisional: dijemur di atas terpal, lalu disangrai manual. Satu bungkus cukup untuk sebulan, dengan aroma khas tanah Sumatra. Bagi wisatawan yang ingin oleh-oleh autentik, tempat ini jauh lebih menarik daripada toko suvenir pinggir jalan.

Menurut informasi dari situs Indonesia Travel, desa-desa seperti Bangun Jaya sekarang mulai dikembangkan sebagai bagian dari program desa wisata. Sayangnya, belum banyak yang tahu. Saya berharap suatu hari akan ada papan penunjuk dari jalan utama.

Tas anyaman dari daun pandan dan kopi bubuk kemasan plastik di atas meja kayu

Menginap di Homestay Keluarga Murah Meriah

Setelah puas berkeliling, malam harinya saya nginep di homestay milik keluarga Mas Heru. Rumah panggung kayu dengan dua kamar kosong, harga Rp50.000 per malam sudah termasuk sarapan nasi goreng dan teh hangat. Tidak ada AC, tetapi udara dingin dari bukit sudah cukup. Kamar mandinya sederhana, air dari sumur. Saya justru menikmatii kesederhanaan itu.

Mandi malam di bawah lampu minyak tanah, ditemani nyanyian jangkrik, bikin saya merasa benar-benar terlepas dari hiruk-pikuk kota. Keesokan pagi, saya diajak memetik sayuran di kebun belakang. Wortel dan sawi segar langsung dimasak untuk makan siang.

Perjalanan singkat ini mengajarkan bahwa liburan tidak harus mahal atau jauh. Cukup satu jam dari Rupit, saya menemukan ketenangan. Sekarang, setiap kali merasa penat, saya teringat suara gemuruh Air Terjun Tembalang dan senyum Ibu Rina saat menyerahkan anyaman tas. Itulah alasan saya terus nulis dan berbagi cerita tentang sudut-sudut negeri yang jarang dijamah.

Sumber lanjutan: sumber resmi

Tag: #wisata alam #destinasi tersembunyi #backpacker